Suksesi Kaderisasi PMII Sebagai Upaya Eksistensi Organisasi dalam Konstelasi Nasional

Oleh : Abd. Salam (Kader PMII)
‘’ Diri Kita Bukan Sekedar ‘’Diri’’ yang bermakna Individu tetapi juga ‘’Kita’’ yang bermakna kolektif, adalah Kader PMII yang berakidah islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang bertujuan : Terwujudnya Pribadi Muslim Indonesia yang Bertakwa kepada Allah, SWT, Berbudi luhur, Berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (AD ART PMII Bab IV)’’

Globalisasi dan pasar bebas sebagai medan ‘’Pertempuran’’ bangsa-bangsa di Dunia. Pertempuran itu terjadi di berbagai bidang, baik sumber daya, modal, pengetahuan dan kebudayaan, baik melalui perdagangan,bantuan asing, pendidikan maupun tekhnologi informasi. Dalam era ini semua pihak, baik individu maupun komunitas akan saling berkompetisi untuk bisa survive. Globalisasi yang mengusung ideologi neoliberalisme sangat berdampak bagi kita berupa pergeseran tata nilai, ideologi, budaya, ekonomi,dsb. Ini merupakan penjajahan gaya baru di Indonesia.
    Di era globalisasi seperti sekarang ini, perlu dirumuskan strategi pertaruhan survival PMII. Maka dari itu, PMII sebagai organisasi kaderisasi harus mampu menyusun strategi kaderisasi yang mapan dengan didasarkan pada situasi kondisi kekinian dalam merebut ruang-ruang strategis ditingkatan nasional.untuk mewujudkan survival PMII, baik ketika masih menjadi kader maupun ketika menjadi alumni, maka setiap kader PMII harus mampu mengambil peran kepemimpinan dalam setiap bidang yang menjadi basis kaderisasi sebagai ruang gerakan jangka panjang.
    PMII dalam konteks kesejarahan ditingkatan nasional mengalami pergeseran orientasi disetiap masanya. Di era 1970-1980an, PMII lebih berorientasi pada ideologis dengan memperkuat basis keislaman Ahlussunnah Wal Jama’ah. Di era 1980-1990an lebih banyak berkonsentrasi pada pengembangan masyarakat, dimana kader-kader PMII banyak masuk atau mendirikan LSM dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya sehingga ini menjadi cikal bakal munculnya gerakan sosial. Sementara itu di era 1990-2000an, PMII lebih fokus pada pengembangan intelektual dimana kade-kader PMII memilih sebagai kaum pemikir atau pembaharu yang terjun dalam Masyarakat. Ketika melihat realitas hari ini, kader-kader dan Alumni PMII hampir mengisi disemua ruang strategis. Namun pada kenyataannya keberadaan PMII diruang-ruang strategis tersebut belum memiliki bargaining position yang kuat dalam skala nasional.
   
Menurut Adin Jauharuddin (Ketua Umum PB. PMII) dalam penyampaian materi PKL PMII Kota Semarang (21 November 2012), PMII hari ini masih berkutat pada bidang Politik, pemberdayaan Masyarakat (LSM), Budaya, Agama, sehingga posisi tersebut tidak memiliki bargaining yang kuat dalam konteks kekinian. Sementara itu hari ini, terjadi perubahan wilayah pertarungan strategis di tingkatan nasional, dimana terjadi pergeseran ruang-ruang strategis tersebut. Adapun ruang-ruang strategis tersebut tersebar dalam berbagai sektor seperti sektor industri, sektor keuangan (Bank maupun non Bank), sektor energi, dan sektor tekhnologi. Sektor-sektor tersebut baik sekarang maupun beberapa tahun yang akan datang akan menjadi sektor-sektor yang menjadi wilayah perebutan bagi semua kalangan, jika ingin PMII masih eksis dan dipandang sebagai organisasi yang memiliki daya tawar yang kuat, tidak ada jalan lain kecuali merebut ruang-ruang strategis tersebut.  Siapa yang mampu merebut ruang-ruang strategis tersebut, maka kalangan tersebutlah yang akan mampu survive dalam menguasai dan mengelola Negara. Maka dari itu  PMII dalam konteks gagasan dan dalam konteks gerakan, PMII harus mampu menguasai Leading Sector (Sektor-sektor unggulan). Tegasnya kader-kader PMII pasca PMII (menjadi Alumni) harus mampu memasuki ruang- ruang Profesional, Akademisi, Politik, Wirausaha, dsb.

    Dalam merebut ruang-ruang strategis tersebut maka PMII harus mampu beradaptasi dan bersaing sehingga harus melalui tahapan kaderisasi yang tepat guna menghasilkan output kaderisasi yang sesuai kebutuhan zaman. Tahapan kaderisasi tersebut dapat dibagi kedalam tiga tahapan, diantranya :
1. Produksi Kader
    Produksi kader PMII selama ini ditempuh melalui tiga pendekatan, yaitu kaderisasi formal, informal, dan non formal. Kaderisasi secara formal berupa masa penerimaan anggota baru (MAPABA), pelatihan kader dasar (PKD), pelatihan kader lanjut (PKL). Dari pengkaderan formal selama ini yang terlihat follow-upnya sering tidak jelas dan tidak maksimal dalam pengawalannya. Kaderisasi informal juga lebih sering kita seperti bimbingan, diskusi, maupun sekedar upaya pendekatan emosional. Sementara kaderisasi non formal dengan mengadakan pelatihan-pelatihan bagi kader.
    Sebagai organisasi kaderisasi, PMII harus senantiasa melakukan produksi kader. Yang paling elementer bagi PMII menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang percaya diri dan siap bersaing. Kader PMII harus memiliki standart performace, sehingga output kaderisasi jelas arahannya.maka dari itu, kaderisasi dalam PMII haruslah didasarkan pada pembacaan karakter, minat dan bakat kader serta trand yang sedang berkembang. Pembacaan karakter, minat ,dan bakat kader ini dengan dihubungkan dengan trand yang berkembang, dimaksudkan agar mempermudah arahan terhadap kader.
    Dalam buku Pendidikan Kritis Transformatif (PB. PMII 2000-2002) ada tujuh komunitas Imajiner  yang setidaknya menjadi referensi saluran bagi kader PMII, antara lain : Kumunitas Kader Basis, Komunitas Agamawan muda liberatif, Komunitas Pekerja sosial Transformatif, Komunitas profesional populis, Komunitas Intelektual organik, Komunita Politisi Ekstra Parlementer, Komunitas Budayawan Religius. Untuk itu, setidaknya setelah selesai dari PMII, kader-kader PMII mampu bersaing dengan elemen yang lain.
2. Distribusi Kader
    Secara umum, mengamati situasi saat ini penyebaran alumni PMII masih berkutat diwilayah politik, agama, sosial budaya. Sementara ruang-ruang strategis lain masih sedikit dan lemah posisinya. Hal ini harus kita sadari bahwa kita jarang melakukan pelatihan professional, maka tidak heran jika yang lahir dari PMII lebih banyak menjadi politisi, pemikir, advokat (LSM), sementara jarang yang jadi wirausaha, akademisi, dsb. Terkait diaspora kader PMII memang dirasa perlu adanya kedisiplinan dan lebih mengarahkan pada potensi dominan diri kader. Di ruang manapun, bidang apapun, dan dipangkalan gerakan manapun harus mampu menjadi yang terbaik serta mampu menjaankan amanat almamaternya (PMII), bukan hanya semata untuk kepentingan pribadi.
3. Kontestasi Kader
    Kontestasi bisa diartikan sebagai proses kompetisi atau persaingan kader dalam rangka memenangkan pertarungan/ perebutan untuk menguasai wilayah gerakan. Dalam hal ini mental, pengetahuan, skill kader harus benar-benar sudah siap sebagai faktor penentu diluar faktor keberuntungan atau takdir.

    Sementara itu, untuk menunjang keberhasilan kaderisasi maka perlu memperhatikan: pertama: Kurikulum kaderisasi. Untuk menunjang keberhasilan kaderisasi maka dianggap penting dalam merumuskan kurikulum kaderisasi disetiap tingkatan lembaga PMII sebagai rumusan kaderisasi yang tentunya disesuaikan dengan kebutuan, situasi dan kondisi disetiap lembaga PMII. Kedua : Metode, yaitu cara atau metode/ pendekatan yang digunakan serta alternatif- alternative pemecahan masalah yang tepat. Ketiga : Menciptakan instruktur/ Pengkader yang handal. Keberhasilan kaderisasi dapat dicapai manakala ada pengkader yang mampu menjadi pengayom, pendamping, pengarah, motivator yang tentunya didasari kompetensi spiritual, intelektual, emosional dan skill sehingga output kaderisasi yang dihasilkan lebih baik minimal sama dengan instruktur/ pengkader.
   
Menurut Irfan Basyari dalam forum yang sama (PKL PMII Kota Semarang), setidaknya kader PMII harus mampu menguasai Spiritualisme/ Religiusitas, Sejarah dan kebudayaan Indonesia, Filsafat, Teori sosial, Ekonomi politik, (Geopolitik, Geoekonomi ,dan geostrategi), Intelegen sebagai Pengetahuan. Sehingga nantinya diharapkan kader-kader PMII mampu membaca realitas sosial serta mampu beraktualisasi diri. Kemudian dalam gerakan beliau menambahkan bahwa kader PMII harus mampu mengenali diri,mengenali lawan, serta mampu mengenali medan pertempuran. Karena sejatinya kader-kader PMII harus mampu bertarung/ bersainguntuk mampu mempertahankan eksistensinya.

    Kembali kepada perebutan leading sektor atau ruang-ruang strategis dalam kancah nasional diatas, maka sebagai sebuah kesimpulan bahwa semua hal tersebut harus diawali dari system kaderisasi yang baik dengan melalui tahapan-tahapan kaderisasi yang tepat. Setidaknya selama menjadi anggota, kader-kader PMII harus mampu dibekali dengan spiritual, emosional, pengetahuan, dan kepekaan sosial serta peka dan mampu menempatkan diri dalam setiap jenjang perubahan zaman. Ketika hal tersebut dimiliki oleh kader-kader PMII, maka PMII akan menjadi organ yang memiliki bargaining position yang kuat dan strategis dalam konstalasi nasional.
    Akhir kata sebagai Closing Statement dari Saya, Jadilah Kader Petarung yang mampu survive dimanapun, kapanpun dalam kondisi apapun.
Bangsa Saia Kalau katanya Akhmad Sugiyono, SE….Karena PMII Lahir Sebagai Organisasi Petarung sebagaimana lambang perisai di benderanya.

Jember, Ruang Veteran 27 November 2012
Pukul 04.44 WIB

0 komentar:

Poskan Komentar